Scarlett – Gadis Bertudung Merah yang Pemarah

Inget kisah Red Riding Hood? Atau kalo Bahasa Indonesianya mungkin, si kecil bertudung merah ya?

Novel kedua dalam seri The Lunar Chronicles karya Marissa Meyer (oke, sebenarnya saya juga baru tahu bahwa serinya ada 5, dan saya masih memiliki 4 bukunya) dan yang diangkat dalam kisah ini adalah kisah tentang si kecil bertudung merah.

Plot cerita aslinya adalah seekor serigala yang menyamar menjadi nenek seorang anak kecil untuk mengasuhnya dan kemudian memakan dagingnya.

Menurut saya memang ini terdengar bodoh sih, orang bodoh macam mana yang tidak bisa membedakan perempuan tua dan serigala bertudung? Ckckckc….

Tapi begitu membaca novel seri ini, saya menjadi sedikit tertarik dengan ceritanya.

Plot

Marissa Meyer tampaknya memiliki sebuah ide kreatif yang membuat cerita yang terdengar bodoh itu menjadi masuk akal.

Ceritanya adalah si pemeran utama, perempuan bertudung merah yang bodoh itu sedang mencari neneknya yang menghilang.

Perempuan ini bertemu dengan seorang petarung jalanan dan kemudian membantunya untuk menemukan neneknya, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya ada sebuah konspirasi dan bahaya yang menghadap mereka.

Bahaya dari sang serigala yang mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menyerangnya.

Disisi lain, Cinder (dalam novel seri sebelumnya), yang sudah janjian dengan Doktor Erland, mencoba untuk kabur dari penjara untuk menemukan jati dirinya.

Cinder mendapatkan sebuah informasi bahwa ada seseorang yang mengetahui jati dirinya yang berasal dari bulan, yaitu Michelle Benoit, yang tak lain adalah nenek dari Scarlett.

Menarik bukan?

Tiga pihak berlari mengejar satu perempuan tua. Satu pihak didorong oleh perasaan sayangnya, yang lain didorong oleh kepentingan pribadinya. Kira-kira bagaimana konflik yang akan terjadi antara dua pihak tersebut.

Dan siapakah yang nantinya akan mendapatkan si Michelle ini?

Saya kasih sedikit clue bahwa akhir dari novel ini sedikit tidak terduga, dan mungkin akan membuat kalian semua tidak sabar untuk membaca novel yang selanjutnya.

Sisi menarik lain dari plot novel ini adalah tokoh utama dan berbagai tokoh yang ada tidak sepenuhnya hitam dan putih. Mereka memiliki sisi kelam dan sisi baik masing-masing.

Plot yang begitu menegangkan ini disisipi dengan beberapa pengingat dari adegan-adegan dalam novel seri sebelumnya, Cinder. Dua novel ini memiliki hubungan yang cukup unik, jadi jangan sampai membaca hanya separuh-separuh ya.

Jika dibandingkan dengan novel prequelnya, yaitu Cinder, mungkin kelebihan yang paling kentara adalah penggunaan sudut pandang yang sedikit berbeda.

Cerita sebelumnya memperkenalkan full Cinderella, tanpa ada embel-embel kisah lain sehingga terkesan lebih panjang dan bertele-tele.

Scarlett menunjukkan sebuah kisah perpaduan antara tokoh utama Cinder dan tokoh utama Scarlett, selain itu ada sudut pandang pangeran Kai, Dan sedikit hint tentang ratu Levana.

Plot yang multipoint of view ini dikemas dengan begitu rapi, sebelum akhirnya diakhiri dengan akhir yang sangat menegangkan. 

Klimaks yang ada juga tidak mengecewakan, bahkan membuat orang lebih penasaran lagi dengan cerita ketiganya.

Karakter

Si kecil bertudung merah digambarkan sebagai karakter yang sangat menyayangi neneknya, baik, sabar dan optimis. Sebuah karakter peri yang biasanya hanya ada dalam dongeng.

Scarlett memiliki karakter yang berbeda. Perasaannya terhadap neneknya masih sama seperti dalam cerita, saling membantu, saling menyayangi tapi Scarlett yang satu ini lebih realistis, waspada, dan kuat.

Marissa Meyer memoles karakter Scarlett dengan perasaan cinta sehingga terlihat realistis, bukan seperti dongeng anak kecil bodoh yang tidak bisa membedakan neneknya dengan serigala.

Selain itu, karakter dari tokoh lain terutama Cinder dalam novel ini juga mulai berubah. Konflik yang terjadi pun sedikit menegang, tidak serta merta bekerja sama dengan mulus, tapi melalui banyak sekali perjuangan yang sepertinya cukup melelahkan.

Perubahan karakter yang terjadi juga bisa dibilang cukup halus, bukan karena sesuatu yang tidak masuk akal kemudian orang tiba-tiba berubah.

Pangeran Kai contohnya juga memiliki sisi dewasa, meskipun dalam hati kecilnya masih menyimpan rasa suka pada Cinder. Beliau masih belum bisa merubah karakternya meskipun sudah ada tanggung jawab sebuah negara di pundaknya.

Perubahan karakter dan konflik yang seolah menggambarkan ketidakpercayaan manusia terhadap yang lain ini membuat kisah yang ada menjadi realistis dan tidak mudah diprediksi sehingga menarik perhatian pembaca.

Bahasa

Yang bisa saya katakan adalah untuk bahasa dalam novel ini adalah deskriptif dan penuh dengan perasaan.

Penggambaran latarnya benar-benar detail, meskipun tanpa ilustrasi sekalipun pembaca akan bisa menangkap dan memvisualisasikan latar yang ada.

Deskripsi adegannya juga sangat mempengaruhi dan menghipnotis pembaca untuk terus-menerus membaca sampai adegan benar-benar berakhir saking serunya.

Dan yang paling membuat saya terpukau adalah deskripsi dari perasaan tokoh, mulai dari apa yang dirasakan ketika jatuh cinta, ketika marah, ketika bosan dan sedih sangat menarik, bahkan mungkin membuat saya sedikit gregetan dan ingin berteriak kencang untuk melampiaskan kekaguman saya pada Bahasa novel ini.

Kesimpulan

Bagus, great… Dari cerita, plot, dan segi bahasa yang sangat menyentuh itu. Cerita ini sangat bagus bagi penggemar misteri, petualangan dan aksi.

Selain itu, bagi penggemar romance yang bukan teen dan lebih mengedepankan perasaan, kalian akan menemukan banyak hint yang membuat wajah kalian memerah membayangkannya.

Rating : 8.6 of 10 

Scarlett – Gadis Bertudung Merah yang Pemarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
www.000webhost.com