Bagaimana aktivitas membosankan menjadi berguna

Well, apakah kalian merasakan bahwa terkadang aktivitas yang kita jalani terlalu membosankan karena sering berulang, atau terlalu menyita banyak waktu padahal bisa dikerjakan sambil ngobrol tetapi tidak punya teman.

Jika anda merasakan hal seperti itu, mungkin anda perlu media belajar yang sesuai dengan keadaan anda sekarang.

Rumah saya bisa dibilang cukup dekat dengan kampus, meskipun harus memakan waktu sekitar 45 menit perjalanan, tapi itu bisa dibilang lebih mendingan daripada teman saya yang berada di luar kota.

Selama tiga tahun terakhir saya tinggal di sebuah pondok yang berada di daerah kampus sehingga saya sudah terbiasa untuk bolak-balik dari pondok – kampus dengan berjalan kaki.

Dilema semester akhir mulai melanda diri saya saat saya menyadari bahwa kegiatan yang ada di kampus sudah tidak sepadat saat saya masih maba.

Sehari-hari yang saya lakukan hanyalah menunggu dosen pembimbing yang tidak pasti akan datang, mengikuti mata kuliah yang hanya memakan 2 SKS setiap minggu, dan sisanya…. Tidak banyak yang bisa saya lakukan.

Hal itu membuat saya memikirkan kembali untuk memperpanjang kontrak saya dengan pondok saya dan akhirnya saya memilih untuk memutuskan kontrak dan mengemudi PP antara rumah – kampus.

Awalnya biasa saja, 45 menit perjalanan bisa ditempuh dengan riang gembira sambil bernyanyi dan memperhatikan kebiasaan lucu orang di jalan (oke, ini agak sedikit konyol juga sih) tapi lama kelamaan saya merasakan juga kejenuhan ketika tidak ada kebiasaan orang yang lucu di jalan dan itu memang jarang juga terjadi sih.

Musik dan lagu yang biasa saya putar sekarang juga terasa hampa dan membosankan sedangkan saya bukanlah orang yang selalu update dengan music-musik terbaru sehingga meskipun saya bosan saya juga tidak tahu apa yang bisa mengusir kebosanan ini selain playlist yang sudah saya simpan selama bertahun-tahun dalam hape saya.

Hingga suatu saat, di suatu pagi yang cerah, matahari sudah cukup tinggi, kampus sudah cukup ramai dengan mahasiswa yang sedang kuliah dan saya sedang berada di ruangan dosen untuk melakukan bimbingan. Berjalan dengan santai menuju ruang dosen, melongok sedikit ke kaca jendela yang ada di pintunya, hanya untuk mengecek apakah dia ada dalam ruangan dan berakhir dengan kekecewaan karena dia tidak hadir.

Saya pun menanyakan kehadiran dosen pembimbing saya pada rekannya dan kemudian rekannya mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan juga bagi saya.

“Bapaknya lagi keluar kota”

“Sejak kapan Bu”

“Kemaren kayaknya sih. Eh… Bener kan kemaren?”

“Kira-kira berapa lama ya?” Saya pun bertanya dengan pikiran yang cukup deg-degan juga. Pikiran saya sudah kemana-mana membayangkan bahwa dosen saya tidak bisa membimbing saya karena tugas di luar kota, skripsi gak kelar-kelar, dan saya mengulangi kebiasaan menjemukan saya untuk pulang pergi selama 45 menit lebih lama lagi.

Tidak, tidak, tidak… Saya tidak mau melakukan itu.

“Palingan besok juga udah balik” Ah… Sepertinya fantasi saya terlalu jauh.

“Ah… Makasih bu”

Saya pun bergegas meninggalkan ruang dosen dan…. Pikiran saya kembali memikirkan apa yang harus saya lakukan sekarang. Hari masih pagi, masih sekitar jam 10 dan saya sudah tidak ada urusan lagi di kampus. Terlalu pagi dan terlalu saying untuk 45 menit yang sudah saya buang di jalanan.

Akhirnya saya pun bergegas untuk mengunjungi teman saya yang berada di pondok tempat saya menetap dulu. 10 menit perjalanan dengan motor tidak begitu terasa sehingga saya sudah sampai di pondok tersebut.

Suasana pondok tersebut tampak sepi sepi, seperti biasanya. Jam 10 adalah jam-jam mahasiswa sedang kuliah, atau hanya nongkrong di kamar berkutat dengan tugasnya, atau tertidur diatas meja laptopnya dengan laptop yang masih menyala.

Saya pun berjalan menuju ke kamar saya dulu untuk menjumpai teman sekamar saya dulu. Orangnya sangar, tubuhnya berisi, suaranya tegas, tetapi jarang bisa serius kecuali kalo dia benar-benar udah capek.

Kamar-kamar yang ada di lorong pondok tampak tertutup dan akhirnya sampailah saya di kamar lantai dua yang hampir di pojokan. Saya pun membuka pintu tersebut dan menemukan sesuatu yang sudah sangat biasa di mata saya saat itu.

Celana pendek, kaos oblong, kasur yang empuk dan headset yang setia menempel di kedua telinganya. Mata hitamnya yang malas tampak menatap hape, tetap dengan tatapan malasnya. Tubuhnya tidak bergeming sama sekali, hanya bergerak sedikit mengatur bantalnya, seolah tidak sadar bahwa saya sedang berdiri di depan pintu.

Saya pun masuk seperti masuk kedalam kamar sendiri dan kemudian merebahkan tubuh saya diatas kasur yang sekarang tidak bertuan karena sesudah saya keluar dari pondok, teman saya masih belum mendapatkan teman sekamar.

Teman saya masih tetap saja cuek sambil terus mengutak-atik layer hapenya sementara saya juga berusaha untuk cuek dan mengutak-atik hape saya.

Perlahan-lahan rasa penasaran saya pun naik melihat layar hape teman saya yang hanya menunjukkan Instagram, tetapi headset masih menempel di telinganya. Saya pun tidak tahan untuk tidak bertanya pada teman saya.

“Lagi dengerin apa”

“Ceramah” Jawabnya singkat. Sebuah ide langsung masuk kedalam otak saya saat mendengarkan jawaban dari teman saya.

“Oh, iya. Ceramah siapa? Punya banyak ga sih rekamannya?” Tanya saya dengan antusias.

“Enggak juga sih. Kalo mau minta aja sama si ****, dia punya banyak kok”

“Tidak, tidak, tidak. Aku punya ide yang lebih baik”

Saat itu juga saya teringat dengan hal yang pernah saya baca di artikel tentang pengembangan diri dulu yang memang masih belum bisa saya praktekan (karena mahal dan susah cuy…) yaitu mendengarkan audiobooks.

Waktu itu saya sempat juga mengoleksi beberapa audiobooks yang bahasa inggris dan ternyata…. Mendengarkan lebih susah daripada membaca, serius….!

Oke, hal itu membuat saya menyerah dan tidak mendengarkan audiobooks lagi, tetapi membaca ebooknya karena waktu itu saya masih punya waktu yang cukup longgar untuk fokus membaca sebuah buku.

Situasi sekarang tampaknya sedikit berbeda, saya memiliki waktu yang longgar hanya saja saya tidak memiliki waktu untuk fokus secara mendalam pada sebuah kegiatan.

Saya terbiasa mengedit dokumen, berkendara, mencari jurnal, maen game sambil mendengarkan music dan saya rasa beberapa aktivitas itu tidak membutuhkan fokus yang berlebih (kecuali membaca jurnal ya, kalo cari doang kan ga susah-susah amat).

Bukankah lebih baik jika music itu saya ganti dengan audiobooks?

Atau mungkin saya ganti dengan hal yang lain seperti podcast?

Podcast

Saya baru mengenal podcast setelah semester akhir (dan itu baru beberapa bulan ini sih) sejak saya menjadi bosan dengan music dan memilih podcast sebagai pendamping perjalanan saya.

Podcast sendiri merupakan sebuah layanan audio on-demand (artinya audio yang bisa kita ambil kapan aja dari internet) layaknya youtube hanya saja dalam format audio.

Nama podcast sendiri berasal dari dua kata, pod dan cast yang dua-duanya merupakan sebuah singkatan dari kata yang sudah ada sebelumnya yaitu iPod dan broadcast.

Dua kata ini memberikan gambaran yang cukup mengena pada podcast. iPod menunjukkan portabilitas, bisa dibawa kemana saja, kapan saja dan dalam keadaan bagaimana saja (selama terubung dengan internet) sedangkan broadcast menunjukkan bahwa layanan ini menggunakan gelombang radio one to all.

Seperti youtube, layanan podcast ini juga gratis dan… sepertinya tanpa iklan juga sehingga kita bisa lebih fokus juga dalam mendengarkan audio dari podcast.

Selain itu, karena dalam bentuk audio, podcast bisa dinikmati tanpa kita perlu fokus dengan visual seperti video. Hal ini membuat podcast bisa dinikmati sambil lari-lari, nyetir, ngedit dokumen, maen game dll.

Inilah yang membuat podcast dapat membuat aktivitas yang repetitive dan berulang menjadi sangat menarik.

Selain itu mendengarkan podcast juga memiliki beberapa kelebihan dan keutamaan.

Listening Improvement

Mendengarkan adalah sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh. Selain mata, rangsangan paling besar yang membombardir otak kita adalah telinga.

Setiap hari kita mendengarkan suara, entah suara angin, percakapan orang, bahkan suara kucing yang lagi berkelahi pun akan masuk kedalam telinga kita tanpa bisa kita filter. Dan suara-suara itu sedikit banyak juga akan mempengaruhi sikap kita.

Ada orang yang terpicu hanya dengan mendengarkan orang marah saja, tetapi saat mendengarkan orang sedang nasehat dia tidak tergerak sama sekali. Ada juga yang terpicu saat mendengar orang guyon dll.

Mendengarkan podcast akan membuat kita menjadi lebih terlatih dalam mengendalikan rangsangan tersebut. Dalam podcast, selain nasehat, ada juga humor, cerita dll yang pastinya dibuat untuk didengarkan dan membuat kita terpicu untuk berubah dengan mendengarkan podcast tersebut.

Menambah fokus

Apakah kalian pernah suatu waktu benar-benar fokus untuk mendengarkan pelajaran? Mungkin hanya beberapa persen yang terdengar, karena saking sibuknya pikiran berkhayal.

Mendengarkan podcast akan melatih tingkat fokus kalian dalam menerima rangsangan berupa suara dan tentunya akan menambah juga learning rate kalian melalui audio.

Membantu visualisasi

Saat mendengarkan cerita orang, apakah kalian pernah mengalami seolah-olah kalian masuk kedalam cerita tersebut? Oke, ada yang seperti itu hanya saja itu adalah spesies rare (apalagi kalo kita ga bisa minta penjelasan lebih dari si pencerita)

Mendengarkan podcast akan melatih dan membantu tingkat visualisasi kita sehingga saat dosen menerangkan tanpa alat peraga, bahkan tanpa contoh sekalipun kita masih bisa mendapatkan sesuatu dari suara nya tersebut (meskipun saya akui kalo suara dosen itu obat tidur yang paling ampuh)

Nah… Itulah beberapa manfaat dari podcast.

Aplikasi podcast

Oke, saya sudah berbicara tentang mengapa kita harus mendengarkan podcast. Sekarang saya akan membicarakan tentang bagaimana.

Caranya sangat mudah sih, apalagi bagi kalian yang sudah mempunyai iPhone, kalian pasti sudah include dengan iTunes dan bisa mendengarkan podcast secara langsung.

Untuk smartphone android, kalian harus mengunduh beberapa aplikasi yang menyediakan layanan untuk mendengarkan podcast. Beberapa aplikasi yang direkomendasikan pada saya:

  1. Spotify, mungkin kalian semua sudah kenal dengan aplikasi music yang satu ini. Aplikasi ini juga menyediakan fitur untuk mendengarkan podcast dan menurut review teman saya sendiri, untuk podcast itu bebas iklan. Aplikasi ini juga dapat terhubung dengan google sehingga kalian bisa subscribe channel dan singkronkan di hape manapun.
  2. Castbox, ini adalah aplikasi yang saya pakai. Saya pengen yang simple aja sih. Fitur tambahannya? Saya tidak tahu, yang penting bisa dengerin podcast.
  3. Google podcast, aplikasi besutan google yang… belum saya download.

Channel podcast

Oke. Sekarang kalian tahu kan alasan dan cara mendengarkan podcast. Sekarang ke pertanyaan utama, podcast apa yang bisa didengarkan?

Saya sendiri juga sebenarnya baru-baru ini mengenal yang dinamakan podcast ini dan langsung tertarik sehingga saya sekarang mengoleksi banyak sekali channel podcast dari beberapa teman saya yang lebih dahulu mengenal podcast.

Beberapa channel dibawah ini mungkin bisa menarik bagi kalian.

  1. Marvel Malam Minggu, review komik dari marvel, superhero marvel
  2. Makna Talks, interview dan berbagai wawasan
  3. 2% with arif hidayat, beberapa wawasan bisnis
  4. SiKutuBuku, review dan rangkuman dari buku. Meskipun episode nya masih sedikit tapi buku yang di review bagus-bagus
  5. Do you see what I see, channel yang isinya cerita horror.
  6. Asumsi bersuara, interview juga yang membahas berbagai berita yang factual dan actual
  7. Podcast bercanda, berbicara suka suka tentang berbagai hal

Manfaatkanlah waktu kalian untuk sesuatu yang bermanfaat.

Kalian bosan dengan kerjaan kalian yang tidak memerlukan fokus, nyetir, jogging dll? Daripada hanya ditemani oleh music, bukankah lebih baik jika ditemani oleh orang yang bisa ngobrol dengan santai dan menambah pengetahua?

Bagaimana aktivitas membosankan menjadi berguna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
www.000webhost.com