Apakah membaca buku membuang waktu?

membaca

Buku adalah jendela dunia.

Buku akan membantu kalian untuk melihat dalam isi pemikiran orang lain.

Buku membantu kalian untuk bisa melihat dunia dengan pandangan orang lain.

Buku akan membantu meluaskan perspektif kalian tentang suatu bidang melalui pemikiran orang lain.

Buku memang memiliki banyak fungsi, tetapi apakah kita perlu membaca buku?

Beberapa minggu yang lalu, saya baru saja menyelesaikan buku karya Stephen Covey yang memang saya akui sangat bagus sekali dan merupakan best seller, yaitu 7 habits of highly effective people.

Buku itu berisi petunjuk praktis tentang apa arti efektif dan bagaimana kebiasaan orang yang efektif secara karakter. Buku itu membuat saya berubah dengan rangkaian pemikiran yang diungkapkan sangat bagus sekali dengan kata-kata.

Selama beberapa minggu kemudian saya menerapkan apa yang dijelaskan dalam buku tersebut dan menemukan bahwa hidup saya menjadi lebih teratur dan lebih produktif lagi.

Sebelum itu, saya menyelesaikan salah satu karya Dale Carniege tentang How to Win Friends and Influence People.

Buku Dale Carniege ini berisi tentang beberapa prinsip klasik tentang bagaimana kita menjalin hubungan yang bagus, dan merupakan sebuah buku praktis tentang kepribadian yang menarik.

Dua karya tersebut sama-sama merupakan best seller sehingga mungkin kalian semua tidak perlu meragukan kualitas dari karya tersebut.

Tetapi saya bingung dan heran. Kenapa saya masih tidak bisa menerapkan prinsip dari Dale Carniege, sementara prinsip dari Covey bisa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya.

Buku Praktis

Dua buah buku diatas merupakan jenis buku praktis, jenis buku yang memberikan panduan pada pembacanya untuk melakukan sesuatu.

Sama seperti instruksi menyetir mobil, bagaimana cara membaca buku yang benar, panduan eksperimen dan lain-lain.

Dale Carniege menyediakan prinsip-prinsip yang umum untuk berhubungan dengan orang lain. Covey menyediakan prinsip-prinsip kebiasaan yang dimiliki oleh orang yang efektif.

Dan ada satu hal yang paling penting saat membaca sebuah buku praktis yaitu

Buku praktis tidak akan dapat menyelesaikan masalah hanya dengan membacanya.

Selain buku praktis ada juga buku teoritis seperti buku matematika, filsafat, sains dsb. Buku teoritis membahas tentang teori yang ada sehingga bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Matematika memiliki masalah dibidangnya, dan itu bisa diselesaikan oleh buku teori matematika.

Fisika, Biologi, Kimia juga sama seperti itu, tapi tidak dengan buku praktis.

Buku praktis hanya bisa menyelesaikan masalah dengan tindakan. Tanpa tindakan dan penerapan, buku praktis hanya sekedar buku dengan tulisan best seller saja.

Ibaratkan orang yang ingin pergi ke suatu tempat. Buku praktis ini adalah peta, bukan mobil yang akan melesat mengantarkan orang tersebut kesana.

Dan dengan peta anda harus melakukan usaha sendiri, membaca peta yang ada, dan bisa berjalan sendiri sesuai dengan peta tersebut.

Cara membaca buku praktis

Isi buku praktis merupakan sebuah pernyataan umum yang harus diimplementasikan.

Contoh saja buku 7 habits of highly effective people membuat sebuah pernyataan umum berupa prinsip dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang yang efektif.

Pernyataan-pernyataan umum inilah yang harus diimplementasikan oleh para pembaca buku tersebut. Pembaca yang cerdas pasti akan langsung menangkap prinsip dasar dari sebuah buku dan mencoba mencari penerapannya dalam sebuah studi kasus khusus pada pengalamannya.

Sama seperti membaca peta, awalnya kita mencari tahu dimana posisi kita berada, setelah itu baru kita mencari tahu tujuan kita mau kemana.

Oleh karena itu, agar kalian dapat mengambil manfaat dan kegunaan dari sebuah buku praktis, maka pertama kali yang harus kalian lakukan adalah mencari aturan yang ada dalam sebuah buku.

Aturan-aturan ini dapat dijelaskan secara eksplisit seperti yang ada pada Daniel Carniege yang setiap bab memiliki sebuah kesimpulan tersendiri, bisa juga secara implisit.

Setelah tahu bagaimana aturan dari buku itu, anda harus tahu juga apa fungsi dari aturan tersebut dan kemudian baru anda bisa tahu apakah aturan tersebut layak diterapkan dalam kehidupan atau tidak.

Seringkali orang hanya terpaku pada aturan-aturan yang ada tanpa mengetahui apa tujuan dari aturan tersebut.

Contoh saat membaca prinsip dari Cara Bersikap Tegas dalam segala situasi, yang mengatakan bahwa bersikap tegas adalah mengatakan apa yang anda inginkan secara lugas.

Mungkin yang terpikirkan adalah dengan mendebat keinginan orang lain, kemudian menjadi agresif. Ini memang terlihat bisa diterapkan, dan juga mungkin saja keren, tapi itu tidak tepat sasaran dalam buku ini.

Atau mungkin saat anda menerapkan prinsip Jangan mengkritik pada buku How to Win Friends and Influence People, kemudian kalian hanya diam saja melihat orang melakukan kesalahan dan orang itu merupakan tanggung jawab anda.

Mungkin seperti itu juga baik, tapi itu salah sasaran.

Saat membaca buku praktis, usahakan pahami aturannya dan juga ketahuilah fungsi dari aturan tersebut.

Orasi dan Persuasi

Buku praktis biasanya cenderung untuk membuat anda bertindak, baik dengan kata-kata maupun dengan sasaran yang muluk-muluk.

Penulis akan berusaha untuk membujuk anda melakukan saran yang ditulisnya. Mereka akan memainkan emosi anda untuk bisa membuat anda tergerak. Mereka akan cenderung ber-orasi dan berkoar-koar untuk membuktikan bahwa sarannya yang paling benar.

Jika saya mengutip kata-kata Covey

Kebanyakan buku sekarang lebih menitik beratkan pada perkembangan kepribadian, emosi. Jarang ada yang menitikberatkan pada mindset dan paradigm.

Orang yang tergerak karena emosi, pasti akan bergerak cepat, tetapi itu hanya untuk sementara. Pernah kalian lihat motivator yang menggerakkan semangat para audiensnya?

Seperti itulah orang yang menggerakkan motivasi dengan orasi. Itu memang efektif sebagai stimulus jangka panjang, tetapi kita butuh sesuatu yang menggerakkan kita pada dimensi mindset dan paradigm.

Orang yang gampang untuk disulut emosinya, biasanya cepat bertindak, tetapi ketika melihat bahwa apa yang didapatkan tidak sebanding, maka dia akan putus asa.

Pembaca yang cerdas akan bisa mendeteksi mana kata-kata yang akan memainkan emosi mereka dan kemudian mengambil tindakan pada kata-kata tersebut.

Mereka bisa dengan mudah memikirkan emosi mereka sendiri dan kemudian mencoba untuk membandingkan itu dengan paradigm mereka, setelah itu mereka akan berubah secara perlahan.

Untuk itu, penting bagi kita mendeteksi kata-kata orasi seperti ini pada buku praktis yang kita baca.

Kesimpulan

So, perlukah kita membaca buku untuk mengubah diri kita?

Tentu saja perlu. Mungkin banyak dari kalian yang merasakan bahwa membaca buku seolah tidak mengubah apapun.

Buku tentang kesuksesan, karir, pengembangan diri. Semuanya seolah terasa sia-sia.

Semuanya tidak sia-sia, kalian hanya perlu menerampilkan untuk membaca buku dengan menggunakan aturan-aturan yang ada.

Bagi kalian yang suka untuk membaca buku praktis, baik itu marketing, pengembangan diri, kesuksesan maka ingatlah

  1. Buku hanyalah peta, kalian yang harus menentukan arah sendiri, kalian yang harus mencoba sendiri
  2. Cari aturan yang di sampaikan dalam buku tersebut, dan tujuan dari aturan itu
  3. Deteksilah adanya orasi dalam buku, dan jangan terbawa emosi saat anda menerapkannya.
Apakah membaca buku membuang waktu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
www.000webhost.com