Elastic Thinking: Berpikir Menyongsong Perubahan

Elastic Thinking

Hal tetap yang ada di dunia ini hanyalah perubahan. Masyarakat berubah, generasi berubah, teknologi berubah, apakah kita harus mengubah pemikiran kita juga?

Suatu hari yang cerah, tepatnya hari Minggu beberapa minggu yang lalu, saya berada di depan rumah untuk berangkat mengikuti pengajian Mingguan. Menggunakan motor matic, saya menunggu ibu saya sambil berdiri di depan rumah, diatas motor matic tersebut.

Tak lama kemudian Ibu saya pun keluar dari dalam rumah dengan tampilan sederhana untuk mengaji. Beliau pun berjalan mendekati saya dan segera menaiki motor tersebut dibelakang saya.

“Yuk Berangkat” Kata Ibu saya.

Saya pun memencet tombol stater untuk menghidupkan mesin motor tersebut. Bunyi mesin motor meraung seolah siap untuk segera meluncur. Tetapi anehnya, gas yang saya tarik seolah tidak membuat raungan itu semakin keras.

Mesin motor itu pun kembali terdiam saat tombol stater sudah saya lepaskan karena dia tidak mau di gas.

Saya pun berpikir ‘masalah apa ini, masa gas nya putus sih sehingga ga nyambung sama mesin’.

Saya adalah orang yang awam dalam masalah permesinan, sehingga saya mencoba untuk menekan tombol tersebut sekali lagi. Mesin pun kembali meraung dalam beberapa detik.

Tidak terjadi apa-apa.

Apa yang salah dengan mesin motor saya?

Sepertinya memang tidak terpengaruh oleh tarikan gas. Mungkin saja tarikan gasnya putus sehingga tidak bisa membuat mesin menyala.

Ditengah kebingungan tersebut, nenek saya pun keluar dengan ekspresi bingung, sekaligus kesal.

“Kenapa kalian belum berangkat juga?” Tanyanya dengan kesal. Saya pun memencet kembali tombol starter tersebut, berharap bahwa motor segera hidup dan saya bisa terhindar dari omelan nenek saya.

Masalah kembali terulang.

“Lah… Motornya ga bisa ya” Kata nenek saya.

Dia pun mengomel sejadi-jadinya, sementara saya, orang yang tidak tahu apa-apa tentang motor hanya bisa terdiam sambil terus berusaha menghidupkan motor tersebut.

Kemaren loh bisa padahal, kok tiba-tiba gak bisa sih” Omel nenek saya.

Saya pun sedikit terkesiap dengan ucapan nenek saya tersebut. Pemikiran dalam diri saya segera berpacu untuk menangkap inspirasi apa yang bisa saya dapatkan dari omelan tersebut.

Apa yang bisa kita ambil?

Yang kemaren tetaplah yang kemaren, dunia ini terus berubah. Kalo kita hanya bisa mengeluhkan perubahan, kita pasti akan terlalu terpaku dengan masa lalu dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Kemaren motor memang masih jalan, kenapa sekarang kok tidak jalan? Artinya ada sesuatu yang salah diantara kemaren dan sekarang yang menyebabkan motor itu tidak jalan.

Kita harusnya memikirkan sesuatu itu, bukan hanya mengeluhkan mengapa sesuatu itu berubah. Itu sama dengan kita mengeluh kenapa kita bisa tumbuh.

Dasar.

Perubahan

Dunia ini berubah, tentu saja. Bahkan saat ini tubuh kalian pun berubah dari yang kemaren. Sel-sel kalian telah melakukan regenerasi, dan menjadi lebih fresh dari yang kemaren.

Dalam bukunya, Elastic: Flexible Thinking in a Constantly Changing World, Leonard Mlodinow menyebutkan bahwa kecepatan perubahan pada zaman ini sangat cepat.

Bahkan sekarang kita harus memiliki cadangan pemikiran lain yang bisa kita andalkan selain pemikiran rasional kita.

Seperti yang kita tahu bahwa otak kita memiliki banyak sekali hubungan saraf sehingga kita seringkali menghubung-hubungkan banyak hal dalam otak kita.

Misalkan, ketika saya sekolah saya akan jadi pinter, ketika pinter nilainya bagus, ketika nilainya bagus kita akan sukses.

Itu hanyalah contoh sederhana hubungan dalam otak. Ada banyak hal yang lebih rumit lagi.

Berpikir elastis dan fleksibel, artinya kita bisa membuat sebuah pemikiran yang tidak terjerat oleh jarring-jaring hubungan otak tersebut.

Kita bisa berpikir dalam banyak arah, tanpa harus takut melanggar atau menyentuh pemikiran kolot kita.

Misalkan, kita mungkin berpikir bahwa uang adalah suatu benda, sesuatu yang harus kita miliki untuk bisa bahagia.

Dengan berpikir elastis, kita berpikir sesuatu yang jauh dari pemikiran itu, memikirkan sesuatu yang baru dan berani untuk melanggar pemikiran awal kita. Berarti kita memikirkan sesuatu yang membuktikan bahwa uang itu bukan suatu benda.

Contoh pemikirannya adalah yang diambil dari buku Robert Kiyosaki.

Kalian bisa saja menganggap uang adalah benda sehingga kalian akan bekerja terus menerus hanya untuk uang, tetapi orang yang kaya hanya akan menganggap uang sebagai kesepakatan yang telah disepakati (kalian bisa baca Rich Dad Poor Dad untuk penjelasan ini)

Oke, sekarang kalian sudah tahu apa itu berpikir elastis.

Kenapa kita berpikir? Dan bagaimana kita bisa berpikir elastis?

Kenapa kita harus berpikir elastis?

Manusia, itu sebenarnya sangat suka dengan gebrakan, perubahan, sesuatu yang baru, dan tantangan.

Perlu bukti?

Kalian pernah menonton sulap? Apa yang kalian rasakan saat menonton sulap tersebut?

Terkejut? Takjub? Heran?

Kok bisa ya manusia dipotong-potong gitu ga mati?

Tapi bayangkan ketika anda menonton sulap yang anda tahu rahasianya. Mungkin awalnya anda akan merasa takjub.

Kok bisa kepikiran trik kayak gitu ya?

Tapi setelah itu anda akan merasa bosan, dan tidak tertarik lagi dengan sulap.

So, manusia ingin hal-hal yang aneh kan?

Itu adalah kemampuan manusia untuk menjelajahi semua hal baru. Tips dan trik sulap, sirkus, maupun hokum fisika yang baru. Kemampuan inilah yang membuat manusia bisa bertahan hidup dari seleksi alam yang sudah memunahkan banyak sekali spesies lainnya.

Lalu, apa hubungannya ini dengan pemikiran elastis?

Kemampuan eksplorasi seperti diatas membutuhkan pemikiran yang elastis. Kenapa? Karena hanya dengan berpikir elastis manusia bisa mengeksplorasi semua kemungkinan, melakukan percobaan, dan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Manusia yang tidak berpikir elastis hanya akan terdiam, duduk, dan kemudian menyalahkan dunia yang berubah semakin cepat.

Manusia seperti inilah yang nantinya kemungkinan besar tidak akan lolos seleksi alam secara psikologis dan social.

So, berpikir elastis merupakan hal yang harus diperlukan manusia untuk bertahan hidup.

Bagaimana cara berpikir elastis?

Oke, kalian sudah tahu kenapa kita harus berpikir elastis, sekarang bagaimana caranya kita berpikir elastis?

Ada beberapa saran yang bisa kalian kerjakan untuk bisa berpikir elastis, diantaranya:

  1. Masuklah dengan apa yang disebut Beginner Mode. Jangan merasa anda sangat ekspert dalam suatu bidang, tapi tetaplah menjadi pemula. Karena dengan menjadi pemula anda memiliki kesempatan untuk belajar berubah.
  2. Kenalilah nilai dari perbedaan. Jangan saklek, hanya berpendapat bahwa pendapat anda selalu benar. Berbeda bukanlah hal yang buruk, tapi justru itu akan memperkaya pemikiran anda.
  3. Tetap berpikir positif.
  4. Hasilkan banyak ide, dan jangan kuatirkan ide yang buruk.

Itu hanyalah beberapa tips yang bisa penulis sarankan.

Kesimpulan

Berpikir elastis tentu saja penting bagi manusia untuk tetap bertahan hidup. Dunia ini terus berubah, dan mengomel karena perubahan tanpa bertindak sama saja mengutuk diri kita sendiri yang tumbuh dan berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
www.000webhost.com