Kenapa maen game selalu asyik? – Study tentang Flow

Pernah tidak kalian melakukan sesuatu yang sangat mengasyikan sampai-sampai lupa waktu?

Dulu, saat saya masih berumur 14 tahun, adalah waktu dimana internet mulai menjamur di daerah saya yang notabene merupakan daerah pedesaan. Berbagai macam warnet mulai bertaburan, meskipun dengan kecepatan yang setara dengan jaringan edge, tapi warnet-warnet itu sangat ramai dikunjungi oleh orang-orang.

Saya ingat sekali bahwa hari itu adalah hari Minggu, karena saya berangkat pag-pagi sekali menuju warnet yang terdekat dari rumah saya dengan alasan belajar dan mengerjakan tugas. Meskipun dalam hati saya sebenarnya hanya ingin menulis blog waktu itu.

Saya pun mencari konten yang bagus untuk blog saya dan menjadi sedikit tertarik dengan tampilan yang sungguh sangat elegan dari salah satu web yang menjadi inspirator konten saya.

Dalam hati saya pun memiliki keinginan untuk bisa mendesign blog yang bagus sesuai dengan keinginan saya.

Memang waktu itu saya masih menggunakan platform blogger yang menggunakan system templating yang cukup rumit (bahkan sampai sekarang saya belum paham dengan template blogger) sehingga saya merasa bahwa kreativitas design saya benar-benar dibatasi oleh kemampuan saya.

Saya pun langsung tergerak untuk mencari bagaimana cara mendesign blogger dengan mudah, cepat dan enak.

Dengan bantuan mbah Google saya mencari aplikasi untuk mendesign blogger sampai akhirnya menemukan sebuah aplikasi yang bernama Artisteer (saya gak tau aplikasi ini masih eksis atau belum).

Aplikasinya cukup besar untuk ukuran warnet pada masa itu, sekitar 80 MB, cukup cepat untuk didownload di jaringan 4G, tapi jika kalian bermain di jaringan EDGE, kalian pasti akan frustrasi menunggunya.

Namun tidak dengan diri saya waktu itu, saya menunggunya dengan sabar sampai sekitar satu jam sebelum aplikasi tersebut bisa di download.

Perasaan saya sungguh senang sekali saat melihat saya sudah bisa mendownload. Pikiran saya sudah sibuk memasang ekspektasi tentang betapa bagusnya design blog saya nantinya sehingga saya langsung menginstallnya.

Dan….

Ternyata komputernya masih butuh .NET Framework. Oke, saya memang harus install dulu dotnet itu.

Saya pun mendownload dotnet sebesar 54 MB yang juga saya tunggu selama 45 menit.

Begitu download sudah selesai, saya pun langsung membuka aplikasi tersebut.

Aplikasinya cukup keren untuk anak berusia 14 tahun di zaman itu dan cukup mudah untuk digunakan sehingga saya asyik sekali melakukan design pada blog saya.

Setelah saya rasa cukup untuk melakukan design pada blog, maka saya pun mulai mengupload design saya.

Menunggu lagi, menunggu lagi, menunggu lagi….

Saya ingat sekali bahwa saat proses upload itu saya mengalami kegagalan sampai dua kali dan harus mengulang dari awal, tapi saya tidak putus semangat dengan itu semua.

Sampai akhirnya….

“Oh… Jadi selama ini kamu disini, udah sholat ashar belum”

Sebuah suara marah-marah langsung masuk begitu saja menuju ke bilik komputerku. Saya pun sedikit terkesiap dengan suara dengan nada marah tersebut dan melihat siapa yang berbicara.

Ternyata itu adalah ibu saya, dengan wajah yang lebih marah daripada suaranya.

“Ah… Tugasnya masih belum selesai”

“Apanya yang masih belum selesai, udah dari jam 9 sampai ashar kamu disini. Pulang”

Saya pun menyimpan lembar kerja yang belum selesai tersebut dan mematikan billing. Mungkin itu adalah pengalaman paling lama yang saya alami di warnet.

Meskipun saya tidak merasakan betapa lamanya waktu lima jam itu, tetapi yang saya rasakan adalah betapa bangkrutnya saya saat melihat harga dari billing saya

Game and Flow

Kalian semua pernah gak sih merasakan hal yang semacam itu? Waktu yang tiba-tiba melaju dengan cepat sehingga seolah semuanya terjadi dalam sekejap mata.

Seperti yang saya lakukan saat mendesign blog meskipun itu gagal.

Atau seperti yang kalian lakukan saat bermain game selama seharian penuh dan kemudian menyesal pada akhirnya?

Apa sih yang menyebabkan hal itu?

Saya ingat bahwa saya pernah membaca tentang hal ini di belakang LKS Sekolah Dasar yang saya beli waktu kelas lima.

Yah… Waktu itu memang saya sudah berpikir terkadang waktu cepat sekali berlalu. Apalagi saat sedang maen PS, sampai-sampai saya berprasangka bahwa si rental ini pasti mempercepat jam dindingnya karena saya hanya merasakan keasyikan selama beberapa menit saja.

Prasangka yang sungguh bodoh.

Waktu itu memang saya masih belum ngeh dengan apa yang disebut dengan flow state sehingga yah… prasangka naif itu pun meracuni pikiran saya.

Apa sih flow state itu?

Flow adalah sebuah state dimana kita benar-benar focus dalam sebuah aktivitas.

Jika kalian pernah menonton anime Kuroko no Basket, kalian mungkin mengenal apa yang disebut zone. Seperti itu lah flow.

Mungkin kalian berpikir bahwa zone/flow hanya untuk orang-orang khusus, orang-orang yang berhasrat besar pada apa yang dia kerjakan.

Tapi itu tidak benar, hampir setiap orang memiliki potensi untuk memasuki flow nya.

Yap…. Termasuk kalian semua.

Terus, kalo saya bisa masuk kedalam flow, gimana caranya?

Tujuan dan Feedback

Hal yang paling penting dari flow adalah sebuah tujuan dan feedback.

Contoh yang paling sederhana dari sebuah tujuan dan feedback adalah saat kita bermain game. Kenapa sih kok seseroang itu bisa asyik bermain game sampai berjam-jam?

Karena dalam game itu kita di suguhi dengan sebuah tujuan yang sangat-sangat jelas.

Game MOBA (ML, AOV, Vain Glory dll.), kalian harus menghancurkan ancient musuh.

Game Battle Royale (PUBG, Free Fire dll.), kalian harus membunuh semua musuh.

Game sepak bola, kalian harus mencetak score yang lebih tinggi daripada lawan.

See? Semua game punya objektif masing-masing.

Selain itu mereka juga memiliki sebuah feedback yang jelas dari apa yang kita lakukan.

Contohnya, dalam game harvest moon, semakin kita memberi bunga kepada istri, semakin banyak hati yang ada pada istri tersebut. Dalam game Battle Royale, semakin kita membunuh musuh yang ada, semakin kita dekat dengan tujuan kita.

Game begitu mengasyikkan karena kita disuguhi dengan hal-hal yang membuat diri kita tertarik kepadanya.

Bandingkan dengan kegiatan belajar.

Apa tujuan kalian belajar? Biar pintar. Oke, tujuan sudah ada.

Tapi, bagaimana dengan feedbacknya? Apakah dengan belajar sehari kalian langsung pintar? Belum tentu, kalian perlu belajar yang lama sehingga bisa pintar. Dan tidak ada feedback itu membuat masuk kedalam flow state saat belajar

Atau kegiatan beribadah. Kita semua punya tujuan masuk surge, tapi dengan tidak adanya feedback pada setiap aktivitas kita membuat kita menjadi bosan dengan hal itu.

Betul gak?

Conclusion

So, dari penjelasan dan contoh diatas kita bisa tahu bahwa untuk mencapai flow state, kita harus bisa menentukan apa tujuan kita dan feedback apa yang kita inginkan dalam aktivitas tersebut.

Gimana sih langkah-langkah untuk flow?

Oke, akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
www.000webhost.com