Artikel vs Buku. Manakah yang lebih bagus?

Artikel itu adalah camilan, makanan utamanya adalah buku. Camilan memang menarik, tetapi terkadang gizinya tidak seimbang.

Kemaren, Selasa tanggal 10 September 2019, saya mencoba untuk bersantai sambil membaca beberapa social media yang ada pada handphone saya. Sambil tiduran di ranjang saya terus-menerus men-scroll Twitter dan membaca apa yang menarik dari tweet banyak orang yang ada disana.

Tak lama setelah saya men-scroll Twitter, saya menemukan sebuah tweet yang cukup menarik minat saya dan mungkin bisa saya bahas sedikit sih. Tweet ini berasal dari seorang yang sudah terverifikasi bernama Ivan yang menyinggung masalah artikel dan buku. Beginilah kira-kira isi dari tweet tersebut.

Konten media social itu camilan. Makanan utamanya adalah buku. Camilan memang menarik, tetapi kurang bergizi.

Lahaplah buku. Berikan nutrisi yang cukup untuk akal dan rasa.

Selamat merayakan hari aksara internasional. Sudah membaca buku hari ini>

Tweet itu diposting tanggal 9 September, dan saya baru tahu bahwa hari itu adalah hari aksara internasional. Yang saya tahu pada hari itu adalah hari dimana Shopee membuat promo 9.9 day yang memberikan gratis ongkir sebanyak Rp. 200.000 XD.

Oke, saya ingat hari itu karena hari itu saya belanja lumayan banyak buku dari Shopee, jadi mungkin secara tidak langsung saya juga merayakan hari aksara itu dengan ikut membeli buku untuk saya. Meskipun dalam hati saya juga sedikit concern juga karena banyak dari buku yang ada di rumah saya masih belum terbaca.

Ah… Anyway… Saat ini saya akan membahas tentang masalah buku tersebut. Kira-kira kenapa sih kok membaca buku itu penting, mungkin lebih penting daripada membaca artikel, dan kenapa saya mengatakan bahwa membaca artikel itu sama kayak makan camilan, sementara buku itu adalah makanan utama.

Oke, coba kita bahas.

Makanan vs Camilan

Apa sih makanan itu? Sesuatu yang bisa di makan. Bagus….

Apa camilan itu? Sesuatu yang bisa buat ngemil. Oke, sip….

Bedanya makan sama ngemil apa? Entahlah, saya juga tidak tahu secara spesifik apa bedanya makan sama ngemil. Hanya saja sebagai orang yang berdarah jawa, saya bisa mendefinisikan makanan itu identic dengan sesuatu yang bernama nasi.

Tidak makan nasi, berarti belum makan, hanya ngemil saja.

Nah… Nasi itu disini kedudukannya sebagai apa? Kenapa harus nasi?

Karena nasi merupakan makanan pokok orang Indonesia. Oleh karena itu, saya sebagai orang jawa dapat mendefiniskan bahwa kegiatan ‘makan’ itu adalah kegiatan untuk memasukkan makanan pokok yang ada pada daerah itu untuk menghilangkan rasa lapar kita.

Lalu, kenapa nasi dijadikan bahan makanan pokok? Apa sih yang menjadi sebuah standar dari makanan pokok?

Roti, gandum, kentang, sagu, ubi, gaplek dll. yang pernah menjabat sebagai makanan pokok di berbagai negara memiliki kesamaan dalam satu kandungan, yaitu karbohidrat.

Apa itu karbohidrat? Secara kimiawi ini adalah sebuah polimer dari glukosa dan saudara-saudaranya yang merupakan sumber energy utama untuk sel-sel yang ada dalam tubuh kita.

Apakah makan nasi saja sudah cukup dinamakan dengan makanan utama? Tidak juga. Tubuh kita tidak hanya memerlukan karbohidrat saja untuk tumbuh, mereka juga butuh vitamin, mineral, lemak dan protein sehingga nasi saja belum cukup untuk dinamakan dengan makanan utama.

Kalian pernah mendengar empat sehat lima sempurna? Itu merupakan sebuah komposisi makanan utama yang bagus dan seimbang untuk tubuh karena mengandung hampir semua gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Oke, kita selesai dengan makanan utama. Sekarang bagaimana dengan camilan? Apa itu camilan?

Yah… Apapun yang bisa dimakan merupakan camilan. Ciki-ciki, gula-gula, kripik, dll. merupakan camilan.

Apa sih yang dikandung oleh camilan. Kalian bisa menemukannya dengan melihat Nutrition Fact yang sudah ada pada camilan-camilan bermerek, dan mungkin kalian sedikit terkejut bahwa camilan tersebut hanya memenuhi sekitar maksimal 20% dari kebutuhan gizi rata-rata manusia.

Meskipun rasanya yang enak dan tidak begitu berat, camilan memiliki kandungan gizi yang kurang dari makanan utama.

Buku vs Artikel

Oke, sudah cukup menjelaskan tentang gambaran makanan utama dan camilan, sekarang kita menuju ke pembahasan utama yaitu Buku vs Artikel.

Dalam gambaran tersebut, kita bisa menggambarkan Buku sebagai makanan utama sedangkan artikel itu cuma sebagai camilan. Mengapa?

Sederhana saja, buku memiliki sebuah ide pokok yang lengkap, terhubung dan saling mendukung untuk nutrisi bagi akal kita.

Sama seperti makanan utama yang akan memberikan nutrisi untuk sel dalam bentuk karbohidrat, perbaikan sel dalam bentuk protein dan perangsang sel dalam bentuk vitamin dan mineral, buku juga memberikan pernyataan-pernyataan yang berisi banyak sekali ide, gagasan yang saling mendukung.

Sedangkan camilan yang ‘hanya’ maksimal memenuhi 20% rata-rata kebutuhan gizi manusia itu hanya memiliki ide yang sedikit, kecil, dan kemungkinan besar tidak terhubung dengan artikel lainnya.

Bahkan tidak jarang ada artikel yang melebih-lebihkan pendapatnya dan menentang artikel yang lain.

Kesimpulan

So, apa sih kesimpulan dari cerocosan tentang makanan, buku dan cemilan yang seolah tidak berguna diatas?

Sekarang adalah era informasi, dimana manusia sekarang dimudahkan sekali untuk mendapatkan informasi. Baik dari media social, artikel, postingan, berita dll.

Jika diibaratkan lagi, informasi-informasi itu seperti kita diberikan banyak sekali camilan-camilan dengan tampilan menggoda, rasa yang enak, tetapi dengan gizi yang tidak seimbang.

Apakah itu bagus?

Bagus-bagus saja. Lihat aja di supermarket-supermarket besar dimana banyak sekali bertebaran camilan-camilan yang enak dan gizi terjamin, itu menunjukkan bahwa camilan itu juga bagus untuk dikonsumsi.

Kalo kita tahu apa aja kandungan dalam camilan tersebut.

Orang sedang batuk, malah ngemil es, ya tambah parah batuknya. Atau camilan dengan kadar gula yang gak kira-kira juga ga bagus untuk orang yang menderita penyakit gula.

Terkadang ada juga oknum tidak bertanggung jawab yang menyediakan camilan dengan pewarna tekstil, bumbu yang berlebihan, dan bahan berbahaya lainnya.

Apakah camilan seperti itu bagus untuk kesehatan? Tentu saja tidak.

So, bagaimana dengan artikel? Sama seperti camilan, artikel juga ada yang bagus dan ada juga yang jelek, tidak semua artikel bisa langsung kita cap jelek karena ada banyak oknum juga yang membuat artikel hanya untuk mengutarakan kebencian, provokasi untuk memusuhi golongan tertentu, dan bahkan menyebarkan informasi sesat. Hal ini tentu saja toxic.

Di era informasi dimana banyak orang, mulai dari tukang becak sampai presiden sekalipun dapat membuat, membuka, dan menyebarkan sebuah artikel ini, kita harus bijaksana dalam menyikapinya.

Kita harus memilih mana camilan yang cocok dan baik untuk pikiran kita, bukan yang sesuai dengan keinginan kita.

Lain halnya dengan buku yang merupakan gambaran dari sebuah pikiran yang utuh, saling memperkuat dan saling mendukung. Buku tidak menyediakan informasi yang setengah-setengah seperti artikel, sehingga setelah membaca buku, pikiran itu bisa lebih segar, lebih fresh dan bahkan lebih terinspirasi sendiri oleh buku tersebut.

Meskipun namanya makanan utama juga ada sedikit pantangannya kan.

Orang darah tinggi juga tidak boleh makan daging kambing secara berlebihan, meskipun secara gizi, daging kambing itu bergizi (dan enak juga tentunya)

Kesimpulannya, baik artikel, maupun buku kita harus pandai-pandai dalam memilih makanan apa yang cocok untuk pikiran kita.

Karena makanan tersebut akan menentukan pikiran kita, dan pikiran kita akan menentukan attitude kita. Attitude itu akan menentukan jadi apa kita kelak.

Selamat hari aksara internasional. Sudah baca buku kah hari ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
www.000webhost.com