Kebiasaan bodoh yang membuat sukses

Banyak buku motivasi yang menyarankan agar kalian semua mempunyai kebiasaan yang baik untuk sukses. Lebih sering membaca, bangun pagi, membuat jurnal, dan lain sebagainya. Tapi, tahukah kalian kalau kebiasaan yang bodoh juga bisa membikin seseorang itu menjadi sukses?

Seorang anak kecil sebut saja namanya Andi. Andi adalah seorang anak siswa sekolah dasar, memiliki kulit yang berwarna gelap berperawakan pendek, sekitar 135 cm, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus.

Wajahnya juga tidak bisa dibilang tampan, dengan hidungnya yang pesek tetapi melebar layaknya jambu air, bibirnya tebal dan berwarna coklat pucat dan rambut kusut yang sepertinya tidak pernah disisir.

Nilainya? Jangan ditanya, untuk anak berumur 9 tahun, atau sekelas 3 SD, dia masih belum lancar membacanya. Andi juga terkenal suka berbohong dan cukup bandel untuk anak seusianya.

Andi memiliki kegemaran mempermainkan wajahnya, seperti mengembang-kempiskan hidungnya, memainkan alis matanya, memiringkan bibirnya, bahkan membalik kelopak matanya hanya untuk mengejek teman-teman sekelasnya. Hal ini membuat Andi sedikit memiliki teman karena kegemarannya tersebut.

Apalagi yang bisa dia banggakan? Sepertinya tidak ada. Apakah kalian semua setuju?

Meskipun demikian, Andi memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi sehingga dia tidak merasa bahwa kepribadiannya itu mengganggu teman-temannya. Alih-alih sadar dan memperbaiki diri, Andi malah semakin menjadi-jadi dan membawa kebiasaan buruknya menuju SMP.

Kepribadian nya yang buruk membuat Andi memiliki banyak sekali musuh saat di SMP. Teman-temannya tidak senang dengan ekspresinya yang mungkin terlalu berlebihan, guru-gurunya juga mengeluh tentang kebandelannya, bahkan teman sekelasnya banyak yang mengucilkannya.

Benar-benar seorang anak yang tidak punya masa depan.

Hingga pada suatu hari, seseorang yang sudah benar-benar sakit hati dengan kebiasaan buruknya mulai melakukan tindak lanjut pada kesakitan hatinya tersebut. Dendam yang sudah lama menumpuk dihatinya segera terealisasi menjadi sebuah tindakan jahat pada Andi.

Andi biasa pulang sekolah sendirian, hal ini membuat sebuah keuntungan pada orang yang berniat jahat padanya. Tanpa terasa, tanpa adanya tanda-tanda, tanpa adanya persiapan, dua orang segera menculik Andi saat dia pulang sekolah dan membuangnya ke tempat penjualan anak.

Disana Andi di perlakukan seperti hewan peliharaan. Disuruh untuk mengamen, mengemis, memulung dan lain sebagainya dengan hanya digaji makan tiga kali sehari. Tak jarang juga majikannya memarahinya dan memukulnya jika target tidak sesuai harapan.

Apakah Andi berubah saat itu?

Tidak, dia tidak berubah.

Bahkan jiwa bullyingnya tampaknya semakin tumbuh subur dengan menindas anak-anak angkatannya. Membuat mereka menjadi kambing hitam atas perbuatannya, dan tetap suka mengejek orang dengan ekspresi bodohnya. Dia bahkan berkali-kali menyelundupkan pendapatannya dari majikannya untuk membeli barang-barang yang dia inginkan.

Kehidupan yang keras seperti itu dijalani oleh Andi selama beberapa tahun. Postur tubuhnya menjadi kurus dan masih pendek, wajahnya semakin kusam, dekil, dan semakin jelek saja. Hanya tabiat dan kepribadiannya saja yang berubah.

Sampai suatu hari dia mengamen pada salah satu orang di sebuah perempatan yang ada di lampu merah. Kali ini dia meminta pada seorang yang terlihat kaya.

Mobil mewah mengkilap, setelan jas dengan kemeja putih formal, rokok yang mahal dan…. Banyak sekali kemewahan yang bisa dilihat dengan mata. Andi menunggu belas kasih sang pemilik sambil memasang ekspresi melas di depan kaca mobil.

Sang pemilik hanya bisa mendesah pelan sambil mengambil uang 2000 an dari dashboard nya dan menyerahkannya pada Andi. Bocah itu melihat uang yang berada di tangannya dengan tatapan yang sedikit tidak terima.

‘Kok cuma 2000 sih om. Padahal mobilnya bagus banget, pelit nih om nya’ Kata Andi.

Mendengar ucapan Andi, pria pemilik mobil mewah tadi tampak berang.

‘Udah bagus dikasih. Lagian kalo mau banyak tuh harusnya kamu kerja’ Sungut pria tadi dengan nada yang tidak terima.

‘Yee… Kalo saya punya ijazah saya juga bisa kerja kayak om kok. Ya udah deh, makasih ya om’ Kata Andi.

Tak lupa pula dia menambahkan salam perpisahan berupa ekspresi wajah bodoh yang seakan mengejek sang pemilik. Sungguh benar-benar perbuatan yang kurang ajar.

‘Lumayan nih pendapatan hari ini’ Gumam Andi sambil menghitung pendapatannya di pinggir jalan. Tanpa disadarinya ada mobil yang tak kalah mewah dengan mobil yang tadi datang dan membuka pintunya di depan Andi.

‘Nak… Ikut paman yuk. Kamu akan dapat uang lebih banyak dari itu’ Kata sang pemilik tanpa basa-basi.

Lebih banyak uang, artinya lebih banyak yang bisa dia selundupkan, dan lebih banyak pula barang yang bisa dia beli. Pikiran jangka pendek itu pun menguasai pikiran Andi dan mendorongnya untuk ikut pria kaya tersebut tanpa piker panjang.

Singkat cerita, pria itu adalah salah satu produser sebuah film yang mencari seseorang yang bisa berperan sebagai orang bodoh. Dia tertarik dengan cara Andi berbicara yang blak-blakan dan kepiawaiannya dalam mengolah ekspresi wajahnya.

Di akhir cerita, Andi bisa menjadi seorang artis comedian yang cukup terkenal, meskipun kebiasaan buruknya masih melekat pada dirinya.

Satu pertanyaan, apakah kalian semua setuju bahwa Andi memiliki kebiasaan yang baik?

Saya yakin sebagian besar dari kalian tidak setuju, tapi kenapa dia bisa sukses? Apa sih yang membuat seseorang itu sukses? Kebiasaan yang baik?

Is that real?

Tentu saja tidak. Saya hanya mengarang cerita tersebut.

Mungkin bagi kalian orang muslim (dan orang Kristen juga mungkin) pernah mendengar kisah nabi Yusuf (Joseph). Kisah ini menurut saya mungkin bisa menjadi representasi jelek dari kisah nabi Yusuf.

Kenapa?

Karena ketika saya mengangkat kisahnya nabi Yusuf, pasti kebanyakan dari kalian akan menjawab bahwa nabi Yusuf itu orangnya baik, sabar dll. Padahal bukan itu yang ingin saya tekankan disini.

Sedikit saja saya cuplik bahwa nabi Yusuf itu adalah orang yang tertarik dengan mimpi, bisa menafsirkan mimpi. Beliau dibuang oleh saudaranya ke sumur, di jual menjadi budak oleh pedagang, difitnah berzina, dipenjara sebelum akhirnya ditarik menjadi menteri keuangan di Mesir.

Andi juga begitu kan? DIkucilkan, diculik, dijadiin pekerja sebelum akhirnya menjadi comedian.

Bedanya adalah nabi Yusuf memiliki pribadi yang sungguh mulia, sementara Andi memiliki kepribadian yang busuk.

Attitude is Everything

Oke, saya disini tidak mendorong kalian untuk menjadi seperti Andi yang kepribadiannya ngalah-ngalahin preman tanah abang (padahal saya sendiri gak tau gimana tanah abang itu)

Tapi, yang bisa kita pelajari disini adalah attitude Andi lah yang bisa membuatnya menjadi seorang comedian sukses. Sekarang apa itu attitude?

Dalam buku Attitude is Everything menggambarkan bahwa attitude adalah cara kita memandang dunia.

Jika diibaratkan dunia luar adalah pemandangan yang indah, maka Attitude adalah jendela untuk melihat pemandangan tersebut.

Saat jendela kalian buram, pemandangan sebagus apapun akan terlihat buram. Jika jendela kalian bagus, maka pemandangan sejelek apapun pasti akan kelihatan.

Sama juga dengan attitude, attitude yang bagus akan membuat kalian bisa berpikir optimis dan melihat dunia dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan attitude yang buruk.

Itulah kesamaan yang dimiliki oleh Andi dan Nabi Yusuf, mereka berdua memiliki attitude yang bagus.

Andi melihat dunia dengan kacamata positif dan yakin bahwa semua hal yang terjadi padanya bisa berakibat bagus. Dia tidak peduli dengan dirinya yang dikucilkan, dia tetap suka pasang wajah mengejek. Dia tidak peduli berada dilingkungan orang-orang yang sudah putus asa, dia tetap cari kesempatan. Dia tidak peduli orang kaya sekalipun, dia tetap mengejeknya.

Nabi Yusuf juga melihat dunia dengan kacamata positif dan keyakinan bahwa Allah pasti akan menolongnya apapun caranya. Hal ini membuat beliau bisa sabar dalam menghadapi setiap cobaan yang ada pada dirinya seberat apapun cobaan tersebut.

What if?

Sekarang, saya mencoba untuk membuat kalian semua sedikit menggunakan imajinasi kalian untuk berandai-anda. Bagaimana jika Andi menyerah pada semua perlakuan temannya dan menjadi anak baik?

Mungkin saja dia tidak akan mendapatkan posisi sebagai comedian. Dia mungkin akan berakhir di kantor dan melakukan pekerjaan yang menurutnya membosankan, tidak seru dan tidak lucu sama sekali. Hidup yang diatur-atur dan tidak bebas berekspresi. Bakatnya dalam berekspresi akan hilang karena kebiasaan baiknya.

Bagaimana dengan nabi Yusuf?

Bagaimana jika ternyata nabi Yusuf tidak dibuang oleh saudaranya?

Mungkin saja beliau terkena paceklik bersama ayahnya dan tidak bisa menemukan tempat hijrah yang baru yang penuh dengan makanan. Bahkan mukjizat beliau yang bisa menafsirkan mimpi pun juga tidak banyak membantunya jika dia tidak melewati proses yang panjang dan memuakkan tersebut.

See… Semua kepahitan yang menerima dua orang ini ada hikmahnya.

Komitmen

Definisi dari komitmen sendiri adalah sebuah perasaan yang bisa menyetir seseorang untuk mencapai sesuatu tidak peduli apapun itu

Andi memiliki komitmen yang bagus sehingga dia memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk tidak merubah kebiasaan buruknya, padahal sebenarnya dia juga tidak tahu apa cita-citanya, tapi dia berprinsip untuk menjadi dirinya sendiri dan berkomitmen untuk itu.

Nabi Yusuf pun sama, beliau memiliki komitmen bahwa Allah pasti akan menolongnya sehingga beliau memiliki kesabaran yang diatas rata-rata menjalani cobaan yang datang silih berganti tersebut.

Bahkan orang dengan kebiasaan seburuk Andi, jika dia memiliki komitmen, memiliki prinsip dan mau berpegang teguh dengan prinsip tersebut, dia akan mencapai kesuksesan. Bukan berarti kita harus memiliki kebiasaan buruk yang berkomitmen. Jika kalian ingin mencapai derajat kemuliaan yang benar-benar mulia, kalian harus mencapainya dengan komitmen dan kebiasaan yang baik layaknya nabi Yusuf.

Sekarang tanyakan pada diri kalian? Apakah komitmen kalian? Apakah kalian bisa berpegang teguh dengan prinsip kalian?

Mungkin ada diantara kalian yang bercita-cita menjadi tentara, tapi begitu dilatih sedikit lebih keras aja mengeluh.

Ada yang bercita-cita menjadi guru, tapi begitu melihat betapa lelahnya menjadi guru kalian berandai-andai menjadi seseorang yang lain yang kelihatannya lebih enak.

Ada yang ingin menghafal Qur’an, tapi begitu tahu bahwa menghafal quran harus menghindari banyak hal agar tidak mengikis hafalannya, kalian malah mengeluh.

Apakah itu disebut orang berkomitmen? Just ask yourself.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
www.000webhost.com